Perketat Persyaratan Jika Ingin Kecilkan Jumlah Peserta Pemilu

JAKARTA – Analis politik dari POINT Indonesia Karel Susetyo mengutarakan, berbicara tentang parpol peserta pemilu maka persyaratannya harus ketat. Berbeda jika hanya ingin membuat partai. Siapapun saja boleh melakukan.

“Jadi, lebih kepada persyaratan parpol peserta pemilu yang diperketat. Sebenarnya, yang ada sekarang sudah cukup baik, tapi untuk verifikasi terkadang tidak dilakukan secara menyeluruh, hanya sampling saja. Tapi, ini kan bicara soal kualitas. Kualitas parpol yang baik menentukan pemerintahan yang baik juga, termasuk di legislatif juga,” kata Karel kepada SP, Senin (19/9).

Salah satu syarat yang bisa diberlakukan, dikemukakan Karel, dengan menerapkan parliamentary threshold (PT) antara 4-5 persen. Tapi karena sejumlah partai menolak angka tersebut, bisa juga dengan mencari jalan tengah dengan angka 3,5-4 persen. Tapi hal yang lebih penting adalah komitmen untuk memperbaiki parpol itu sendiri.

Diutarakan, dengan jumlah parpol peserta pemilu yg lebih sedikit maka banyak biaya yang bisa dihemat. Sedangkan jika jumlah pesertanya banyak, otomatis kertas suara yang digunakan akan lebih besar, yang artinya perlu mengeluarkan biaya lebih besar.

Di sisi lain, Karel menilai bahwa jumlah parpol peserta pemilu yang ideal sebenarnya antara 3-5 parpol. Dengan jumlah itu sudah bisa mewakili partai dari sisi ideologi, partai Islam, partai tengah, partai yang mewakili kelompok buruh, dan partai yang mewakili kepentingan daerah.

“Tapi, kalau melihat kondisi yang sekarang terjadi maka jumlah parpol yang akan menjadi peserta pemilu di kisaran 20 parpol atau bahkan bisa kurang dari 20. Jumlahnya sepertinya akan lebih kecil dibandingkan Pemilu 2009. Salah satu penyebab karena sudah ada beberapa parpol yang memutuskan untuk bergabung,” ungkap Karel.

Pertumbuhan parpol di Indonesia, sambungnya, terjadi bukan disebabkan oleh hal-hal berbau ideologi. Pertumbuhan atau semakin banyaknya parpol karena fragmentasi politik yang terjadi di dalam parpol yang sudah ada.

Namun, dilihat bahwa setelah reformasi berjalan selama 13 tahun, euphoria politik di Tanah Air sudah mulai berkurang. Berbeda ketika masa awal reformasi, banyak orang membuat partai, yang dinilainya wajar, karena sudah sekitar 32 tahun banyak yang merasa tidak boleh bersuara.[Suarapembaruan]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s