Temuan Panja Mafia Pemilu Semakin Mengerucut.

PaulaSinjal.com – Satu persatu pihak yang diduga terkait mafia pemilu dipanggil Panitia Kerja (Panja) Mafia Pemilu. Kali ini giliran Dewi Yasin Limpo yang akan memberikan keterangannya kepada Panja.

Dewie Yasin Limpo memberikan klarifikasi di depan Panja Mafia Pemilu terkait kasus surat palsu MK. Dalam klarifikasinya, Dewie membantah keterangan saksi sebelumnya yang dihadirkan Panja.

Sebelumnya staf panitera MK Nalom Kurniawan, membeberkan bila Dewie Yasin Limpo meminta surat yang ia akan serahkan ke KPU. Surat tersebut adalah surat mengenai penjelasan MK bahwa surat dengan Nomor 112 tertanggal 14 Agustus adalah palsu.

Dewie meminta surat tersebut di halaman Gedung KPU. Awalnya Nalom enggan memberikan surat tersebut, namun karena Dewie Yasin Limpo menelpon seseorang. Kemudian surat itu ia berikan. “Tadi tidak saya berikan, terus Ibu Dewie menelpon seseorang dan berbicara dengan bahasa Makassar. Telepon itu lalu diberikan kepada saya, dan ternyata yang berbicara Ibu Neshawati. Nesha meminta saya menunjukan surat itu ke Ibu Dewie, katanya itu atas perintah hakim Arsyad,” ujar Nalom beberapa waktu saat memberikan klarifikasinya di Panja.

Namun keterangan Nalom itu pun dibantah Dewie. “Saya itu di telpon kakak saya di Makassar. Dia menanyakan kabar saya dan posisi saya di mana. Karena saat itu saya baru selesai operasi,” bantah Dewie.

Dewie juga membantah keterangan Sekjen MK, Janedjri M Gaffar yang mengatakan bahwa yang ditelepon Dewie saat itu adalah hakim Arsyad. “Yang menelepon kan saya, kenapa dia yang tahu. Saya juga mengikuti kasus ini di televisi. Saya merasa difitnah,” imbuh Dewi.

Pada saat saya tanyakan “apakah benar pertemuan di rumah hakim konstitusi Arsyad Sanusi tidak direncanakan? dan apakah anda kenal dengan saudara andi nurpati?”

Dewi menjelaskan soal pertemuan di rumah Hakim Arsyad Sanusi hanyalah untuk makan. Saat itu, kata Dewi, dirinya diundang oleh istri hakim Arsyad setelah menelepon Rara, keponakan Arsyad, usai berbelanja di Cempaka Mas. “Karena lapar dan mau makan, ada satu restoran sahabat saya, Tira. Tira itu ibunya Rara, keponakan Arsyad. Nah, istri Arsyad memasak pisang ijo. Kami lalu ke sana.”

Ia menyatakan Hasan sendiri datang belakangan ke rumah Arsyad. “Saya tidak pernah ke rumah Pak Arsyad soal beperkara. Ini barang sudah selesai,” ujarnya. “Surat asli ataupun palsu, sama sekali tidak menguntungkan saya,” ujarnya. “Dari mana saya bikin surat yang bodo bodo kali, walaupun saya tolol.”

Namun menurut saya tidak mungkin ada pertemuan yang tidak direncanakan dan sesuatu terjadi tidak secara kebetulan, apalagi kebetulan disana ada saudara Masyhuri Hasan yang saat ini divonis menjadi tersangka dalam kasus ini. Sehingga temuan-temuan yang didapatkan oleh Panja Mafia Pemilu semakin menemukan titik terang untuk mengungkap kasus dugaan pemalsuan surat penjelasan MK. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s