Hasil “Mark Up” Alutsista Dibagi-bagi

Jakarta-Praktik penggelembungan anggaran dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) telah berlangsung sejak lama. Praktik seperti itu sulit untuk dihentikan. Yang bisa dilakukan saat ini adalah mengurangi besaran nilai penggelembungan anggaran.

Demikian disampaikan Ju­wono kepada SH, Senin (24/1) malam, menanggapi imbauan Presiden Susilo Bambang Yu­dhoyono soal penghentian prak­tik penggelembungan ang­garan pertahanan. “Dalam praktik, mark up dihilangkan sama sekali tidak mungkin,” ujarnya.

Juwono mengatakan, ketika baru menjabat Menteri Per­tahanan, sekitar Oktober 2004, presiden secara khusus me­minta dirinya agar mark up peng­­adaan alutsista dihentikan. “TNI harus memelopori trans­pa­ransi,” kata Juwono meng­utip permintaan presiden kala itu.

Namun, ia menyampaikan kepada presiden bahwa menghapus praktik penggelembung­an anggaran dalam peng­adaan alutsista tidak mungkin. Apa­lagi, ketika pertama kali menjabat sebagai Menteri Perta­hanan, kebocoran anggaran pertahanan di atas 50 persen.

Faktor penyebab praktik penggelembungan anggaran tersebut sulit dihapus karena setiap pengadaan alutsista yang menggunakan fasilitas pembiayaan kredit ekspor dari negara lain melibatkan sejumlah instansi negara, seperti Kementerian Keuangan, Badan Perencanaan dan Pem­ba­ngun­an Nasional, dan Bank Indonesia (BI).
Mereka kemudian meminta setoran. Bahkan, setoran tersebut tidak hanya diberikan ke pejabat di sejumlah instansi negara, tetapi juga ke para pe­tinggi di Kementerian Perta­han­an, Markas Besar TNI, hingga tiga matra angkatan. “Setiap departemen minta per­senan,“ kata Juwono.

Juwono menambahkan, praktik mark up menjadi sa­ngat tidak wajar jika setiap pejabat atau petinggi minta persenan mencapai 60 persen, atau bahkan di atas 100 persen. “Dalam transaksi internasio­nal, yang wajar sekitar 8 persen-10 persen,” ujarnya, mengacu pada negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan India.

Banyak Meja
Pengamat militer dari Uni­versitas Indonesia, Andi Wi­djajanto, mengatakan, penggunaan anggaran pertahanan tidak efisien karena terlalu banyak “meja birokrasi” yang harus dilewati. “Jika kemen­terian lain ‘hanya’ melalui empat meja, tetapi di Ke­menterian Pertahanan bisa 17 ‘meja’,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal George Toisutta, membantah telah terjadi praktik penggelembungan anggaran per­tahanan. Proyek pembelian alutsista di TNI Angkatan Da­rat, kata George, sudah sesuai dengan aturan yang berlaku dan harga disesuaikan dengan harga pabrik.
Sementara itu, mantan Wakil Ketua Komisi Perta­hanan Dewan Perwakilan Rak­yat periode 2004-2009, Yusron Ihza Mahendra, mengatakan praktik mark up dalam peng­adaan alutsista harus segera dihentikan. Pemerintah harus segera me­rancang cetak biru pembangun­an industri pertahanan.

“Karena jika tidak ada acuan maka kita hanya akan membangun pertahanan na­sional serabutan,” ujarnya. Ia menantang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan penyelidikan.
“BPK dan KPK berani atau tidak? Jangan hanya kemen­terian lain yang diobok-obok,” ujarnya. Ia menilai, keberpihakan pemerintah terhadap industri pertahanan nasional masih rendah. Akibatnya, se­ring kali terjadi ketidaktepatan penggunaan anggaran pertahanan yang berasal dari uang rakyat.
jangan lupa klik juga di http://www.paulasinjal.com
sumber: silahkan klik www.sinarharapan.co.id

2 comments on “Hasil “Mark Up” Alutsista Dibagi-bagi

    • Iya terima kasih kembali, berita yang seperti ini merupakan informasi sebagai tolak ukur keberhasilan dari program pemerintah dalam rangka pemberantasan korupsi, saya tunggu berita-berita yang lain, semoga sinar harapan tambah maju….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s