Peredaran Senjata Api Ilegal & Pengawasan Daerah Perbatasan

JAKARTA – Belum lama ini kita dikejutkan dengan maraknya perampokan yang terjadi di hampir dipelosok negeri ini dengan melibatkan perampok yang mempersenjatai diri dengan senjata api yang hampir sebagian besar senjatanya menurut para pakar, adalah senjata organik yang biasa dipakai oleh aparat TNI dan POLRI. Sebut saja perampokan yang terjadi di Bank CIMB cabang Medan, dalam kejadian ini menewaskan 1 aparat Brimob Polda Sumut dan dua orang satuan pengamanan (SATPAM) Bank tersebut. Dugaan ini diperkuat temuan Peolisi, seperti dalam siaran Berita Liputan6 Siang SCTV 21/8/2010, bahwa Polisi memastikan senjata perampok Bank CIMB Niaga Medan, Sumut, adalah yang biasa digunakan anggota TNI/Polri. Ini memunculkan dugaan bahwa pelaku perampokan bukan orang awam. Setidaknya, mereka terlatih secara profesional. Namun polisi belum bisa memastikan asal senjata para perampok. Ada dugaan, senjata diperoleh dari pasar gelap yang kemungkinan marak di Tanah Air.

Dari aksi perampokan ini, menurut saya ada dua indikasi yang harus menjadi perhatian aparat guna pengusutan khususnya terhadap peredaran senjata yang telah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. pertama: ada indikasi bahwa peristiwa ini melibatkan orang dalam institusi TNI dan POLRI dan yang kedua: para pelaku perampokan menggunakan senjata yang didapat dari pasar gelap.

Untuk itu guna melakukan penyelidikan yang lebih mendalam maka perlu ada dua investigasi yang harus dilakukan oleh aparat. Yang pertama : perlu dilakukan reinventarisir terhadap persenjataan yang di miliki oleh institusi TNI-POLRI, sekiranya terjadi penyalahgunaan senjata yang dilakukan oleh oknum aparat kedua intitusi tersebut, indikasi ini sangat memungkin mengingat para pelaku perampokan bukan orang awam. Setidaknya, mereka terlatih secara profesional.

Kedua: indikasi pelaku menggunakan senjata yang didapat dari pasar gelap yang selama ini masih banyak beredar di Indonesia, hal ini harus diselidiki sumber, dan jalur penyelundupannya serta perlunya tindakan yang tegas dalam menangani permasalahan ini. Disamping perlu adanya penelusuran dari mana asal muasal senjata ini.

Khusus untuk peredaran senjata gelap, diduga diselundupkan melalui jalur laut yang kebetulan berada pada wilayah perbatasan langsung dengan negara lain, misalnya perbatasan Indonesia–Filipina sangat memungkinkan adanya penyelundupan melalui kepulauan Sanger Talaud oleh para teroris dan bukan tidak mungkin ini juga terjadi pada wilayah-wilayah perbatasan dengan negara tentangga yang lain.

Mengingat pentingnya wilayah perbatasan antar negara terhadap kemanan dan pertahanan, maka seharusnya hal ini perlu secepatnya untuk ditingkatkan pengawasannya guna mengantisipasi terjadinya tindakan-tindakan yang sangat merugikan dalam bidang pertahanan dan kemanan yang sudah tentu merugikan kedaulatan NKRI itu sendiri. Antisipasi ini penting karena mengingat kejahatan antar negara dapat terjadi kapan saja,  ini perlu segera dilakukan agar supaya pertahanan kita tidak kedodoran, karena sampai saat ini kita selalau kecolongan ketika peristiwa dan kejadaian-kejadian yang merongrong pertahanan dan kemanan kita sudah terjadi baru kita sibuk mencari sumber dan menduga-duga asal muasalnya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s