Renungan Bagi Perempuan Indonesia

RENUNGAN BAGI PEREMPUAN INDONESIA

  • Saya selalu bertanya dalam hati, apakah benar dan cukup jika setiap tanggal 21 April  wanita Indonesia memperingati perjuangan RA Kartini hanya dengan berbagai simbol, berkebaya, bersanggul, lomba masak, yang sebenarnya “menyudutkan/membatasi” peran perempuanitu sendiri.
  • Bagi saya sendiri dari segi hakikat perjuangan perempuan, tanggal 21 April seharusnya tidak sebatas memperingati RA Kartini. Tapi mestinya tanggal itu kita jadikan momentum  untuk  mengingat dan mendalami perjuangan seluruh wanita dalam sejarah Indonesia, baik sebelum maupun sesudah masa Kartini (1879-1904).
  • Misalnya saja, sebelum pahlawan nasional asal Jepara tersebut meninggal pada 17 September 1904, di usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun, dan berstatus sebagai istri ke-4 Bupati Jepara, kita sudah pemiliki Cut Nyak Dien (1850-1908), perempuan Aceh berhati baja yang memberontak melawan Belanda.
  • Kita juga sudah memiliki Maria Walanda Maramis (1872 – 1924). Wanita tangguh ini diberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan pendidikan perempuan Minahasa pada permulaan abad ke-20, jauh sebelum Kartini memulai sekolah perempuannya di Jepara.
  • Dan jangan lupa, kita juga memiliki Martha Christina Tiahahu (1800-1818) pahlawan nasional dari Maluku yang memberontak melawan Belanda.
  • Masa sekarang, peran perempuan semakin besar. Tetapi masih banyak pekerjaan rumah. KDRT, misalnya. Perkawinan usia muda, dll.

*Renungan ini disampaikan dalam rangka memperingati hari Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s