Refleksi Peringatan Hari Perempuan Sedunia

Pada 8 Maret 2010 kemarin, seluruh masyarakat dunia memperingati hari perempuan. Tahun 2010 ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tema hari perempuan “Equal Rights, Equal Opportunities: Progress for All” (Kesetaraan Hak, Kesetaraan Kesempatan: Kemajuan untuk Semua). Tema ini sebenarnya menegaskan kembali bahwa  dalam hukum Internasional, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk membangun dunia yang adil, damai, dan sejahtera.

Walaupun setiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya hari perempuan sedunia dirayakan akan tetapi ketidaksetaraan masih terus terjadi di dunia seperti : masih rendahnya perwakilan perempuan dalam posisi yang berpengaruh dalam dunia politik dan ekonomi dunia; perempuan masih mendominasi angka kaum miskin; berlanjutnya kekerasan terhadap perempuan; adanya pemisahan jenis kelamin (gender gap) dalam pendidikan dan besar-kecilnya gaji.

Hak yang sama bagi setiap warga negara, yang seharusnya bersifat universal, masih belum berlaku bagi perempuan. Pekerjaan-pekerjaan reproduktif tanpa imbalan masih dibebankan di pundak perempuan. Di seluruh dunia, perempuan masih melakukan pekerjaan-pekerjaan reproduktif, merawat orang sakit dan jompo, merawat keluarga dan rumah tangga setiap hari. Pekerjaan jenis ini diperlukan di setiap penjuru dunia, tapi masih belum diberikan imbalan, dan orang cenderung menganggap perempuan harus dan mau melakukan pekerjaan seperti ini.

Sebuah Refleksi

Di negeri ini ketertindasan perempuan masih di rasakan sampai saat ini. Dengan banyaknya pelecehan, perkosaan, KDRT, tidak adanya hak yang semestinya bagi buruh perempuan, penganiayaan dan pelecehan kepada TKW dan masih banyak lagi kasus-kasus yang tetap menjadi korban adalah kaum perempuan. Persoalan ini muncul karena tatanan kehidupan sosial kita masih menganut paham  patriarkhi. karena adanya pemahaman bahwa laki-laki adalah superior maka perempuan menjadi inferior dan ini menjadikan kaum perempuan di lemahkan. Dan hal yang paling  fatal adalah apabila secara tidak sadar atau sadar perempuan membenarkan cara berfikir patriarkhi tersebut.

Dalam tatanan kehidupan bernegara, untuk menjamin bahwa keberadaan kaum perempuan itu sama dalam hak hidup bersosialnya, maka pemerintah membuat kebijakan agar terjadi kesetaraan dan keadilan antara permpuan dan laki – laki. Hal ini dapat di lihat dari kebijakan kebijakan pemerintah, seperti : UU no 12 tahun 2003 tentang keterwakilan perempuan dengan kuota 30% (affirmative action), Inpres NO 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam pembangunan nasional, UU No 23 tahun 2004 tentang UU PKDRT merupakan satu langkah yang baik untuk dapat memperjuangkan  hak hak perempuan.

Dari payung hukum inilah sebenarnya titik balik kaum perempuan untuk menuntut Kesetaraan Hak, Kesetaraan Kesempatan: Kemajuan untuk Semua.(*)

Mari kita perjuangkan…… bersama kita bisa………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s