Generasi Muda Harus Hidup Mandiri Setelah Dapat Bantuan

Manado, Pembinaan generasi muda tidak hanya terfokus pada pemberian bantuan, tetapi bagai-mana mengarahkan mereka mampu hidup mandiri setelah mendapatkan bantuan. Karenanya kegiatan ini harus dibangun pada masa remaja sampai usia produktif sehingga ada benteng kokoh menghadapi tantangan maupun godaan.

Pendapat ini dikemukakan salah satu tokoh generasi muda Sulawesi Utara, Paula Sinjal SH berkaitan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun 2008. Ia menilai, salah satu persoalan besar yang dihadapi generasi muda saat ini selain degradasi moral, yaitu masalah pengangguran karena terbatasnya lapangan kerja bagi mereka.

Kebijakan pemberian bantuan pembinaan selama ini yang dilakukan oleh pemerintah dan maupun pihak swasta, berupa dana segar dan modal kerja atau kredit harus dirubah dengan penekanannya pada bantuan peralatan ketrampilan, sehingga ada hasil nyata karena mereka mampu memiliki ketrampilan.

Lanjut dikatakannya, upaya pemerintah yang akan menghidupkan kembali Balai Latihan Kerja (BLK) di semua propinsi melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan kebijakan positif yang perlu direspons semua pihak, karena ini merupakan salah satu alternatif dalam memecahkan masalah ketenagakerjaan.

Menurut Paula Sinjal yang menjabat Wakil Ketua KNPI Sulut, ketidakmampuan generasi muda mempunyai ketrampilan (skill) merupakan hambatan utama dan ini harus disadari generasi muda bahwa ketika memasuki pasar kerja sudah pasti tereleminasi, apalagi persaingan antarpencari kerja semakin kompetitif.

“Jadi mari kita siapkan potensi diri untuk mengasah ketrampilan baik melalui pusat latihan yang dikelola swasta maupun lewat jalur pemerintah,” ujar Paula Sinjal seraya menambahkan sikap mental harus juga diubah sejak usia remaja sehingga saat memasuki usia pencari kerja tidak merasa gengsi atau rendah diri ketika harus mengambil kursus atau ketrampilan.

Dikatakan Koordinator Pelayanan Kasih Jakarta ini, sesudah memiliki ketrampilan dan mendapatkan pekerjaan generasi muda harus berpikiran luas bahwa masa depan bangsa ini di tangan mereka, bukan sebaliknya ketika memperoleh pendapatan yang baik selanjutnya berpola hidup hura-hura, artinya tidak mampu membentengi diri untuk terjun dalam kehidupan berpikiran negatif seperti menjadi koruptor dan bergelut dengan dunia obat-obat terlarang, apalagi mempersiapkan diri masuk dalam kelompok orang-orang yang ingin menghancurkan bangsa ini seperti teroris.

Berbicara khusus bagi generasi muda di Sulut, menurut calon anggota legislatif DPR-RI dari Partai Demokrat ini, yang perlu mendapatkan perhatian adalah kalangan generasi muda yang ada di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Sangihe, Sitaro dan Talaud, di samping generasi muda di daerah sentra produksi tanaman kelapa dan cengkeh.
Sudah menjadi rahasia umum pola hidup kalangan generasi muda di daerah sentra produksi tanaman kelapa dan cengkeh seperti “dimanja” oleh komoditi perkebunan itu, yang pada akhirnya menjadikan mereka tidak siap menghadapi persaingan global seperti sekarang ini, sebalikya generasi muda di daerah perbatasan mereka terbiasa dengan pola hidup pas-pasan dan butuh pendidikan memadai.

Mengasah ketrampilan merupakan salah satu solusi yang suka atau tidak suka harus dilakukan generasi muda agar tidak menjadi penonton dan pasrah dengan ketidakberdayaan, ujar Paula Sinjal yang mendapatkan kepercayaan dari Badan Pekerja Sinode GMIM sebagai pimpinan delegasi Pemuda GMIM dalam Pertemuan Nasional Pemuda Kristen 22-23 Oktober 2008 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.(eky/*
(Harian KOMENTAR Manado)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s